Indonesia tengah berada pada momentum krusial dalam menentukan kualitas sumber daya manusia masa depan. Dengan lebih dari 30 juta anak di bawah usia enam tahun, investasi pada anak usia dini menjadi penentu utama daya saing bangsa dalam jangka panjang. Dalam kerangka Nurturing Care Framework (NCF), kualitas tumbuh kembang anak ditopang oleh lima komponen utama, yaitu kesehatan, gizi, pengasuhan yang responsif, keamanan dan perlindungan, serta kesempatan belajar sejak dini. Namun, berbagai tantangan menunjukkan bahwa fondasi tersebut belum sepenuhnya kuat, mulai dari tantangan gizi dan kesehatan, keterbatasan akses terhadap layanan pengasuhan dan perlindungan yang berkualitas, hingga belum meratanya kesempatan belajar yang mendukung kesiapan anak.
Sejalan dengan itu, meskipun Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Intergratif (PAUDHI) telah memiliki landasan kebijakan, sejak diluncurkannya Peraturan Presiden No. 60 Tahun 2013, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala, sebagaimana ditegaskan dalam laporan UNICEF Indonesia Country Program Evaluation tahun 2021-2025 yang menunjukkan bahwa layanan masih berjalan sektoral, kapasitas pemangku kepentingan belum terstandarisasi, serta kebijakan dan implementasi di tingkat daerah belum sepenuhnya selaras.
Dalam merespon berbagai tantangan tersebut, Executive Roundtable: Catalyzing an ECED Collaborative for Indonesia yang diselenggarakan Tanoto Foundation pada 31 Maret 2026 menjadi titik awal yang krusial. Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong pembentukan kolaborasi untuk mendukung anak usia dini di Indonesia tumbuh kembang optimal melalui kerangka kerja PAUDHI.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Veronica Tan, dalam sambutan kuncinya menegaskan bahwa upaya pengembangan anak usia dini harus dilakukan secara terintegrasi, mencakup pengasuhan, kesehatan, gizi, pendidikan, dan perlindungan dan kesejahteraan anak. Pendekatan ini menjadi kunci untuk memastikan setiap anak Indonesia memperoleh layanan yang utuh, berkelanjutan, serta memperkuat komitmen dan investasi jangka panjang pada fase awal kehidupan anak.
Inisiatif Penguatan Tata Kelola di Tingkat Desa
Dalam pertemuan tersebut, ECED Council Indonesia sebagai sebuah kelompok multi keahlian terkait tumbuh kembang anak usia dini, merekomendasikan pendekatan penguatan tata kelola layanan PAUDHI di tingkat desa melalui model percontohan “100 Desa, Satu Komitmen: Setiap Anak Tumbuh dan Berkembang Optimal”. Inisiatif ini menekankan pentingnya sistem tata kelola yang mampu memastikan koordinasi, komunikasi, dan mekanisme rujukan layanan berjalan efektif lintas sektor dan lintas tingkatan pemerintahan.
Rekomendasi ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:
- Scoping Study: Mengidentifikasi dan memilih 100 desa percontohan di seluruh Indonesia yang paling siap dan strategis untuk diperkuat tata kelola layanan PAUDHI
- Situational Analysis Study: Analisis situasi yang menyeluruh memastikan bahwa desa-desa yang dipilih mencerminkan keragaman Indonesia sekaligus memberikan bukti yang kuat yang dibutuhkan untuk menguji model tata kelola yang dapat diterapkan secara luas. Beralih dari seleksi ke diagnostik mendalam, kami memvalidasi data cakupan untuk memetakan lanskap lokal – menganalisis aktor lokal, standar kualitas layanan, dan sistem rujukan. Dengan memetakan sumber daya lokal terhadap permintaan masyarakat dan populasi anak, kami memastikan model-model tersebut berlandaskan pada penciptaan layanan PAUD yang terjangkau dan inklusif
- Action Research: Menguji dan menyempurnakan praktik tata kelola secara kolaboratif bersama pemangku kepentingan desa untuk menghasilkan model yang praktis dan mudah direplikasi di berbagai desa lainnya di Indonesia.
- Evidence-Based Advocacy: Advokasi berbasis bukti sangat penting untuk meningkatkan tumbuh kembang anak usia dini, untuk memastikan bahwa kebijakan, keputusan pendanaan, dan reformasi tata kelola didasarkan pada data yang andal, bukan asumsi atau informasi yang terfragmentasi. Dengan begitu, memungkinkan: solusi dikontekstualisasikan, intervensi sesuai dengan realitas lokal, komunitas yang sangat membutuhkan diprioritaskan, kebijakan disesuaikan dan bukan kebijakan umum yang berlaku untuk semua.
Mendorong Gerakan Bersama
Pembelajaran global, sebagaimana ditunjukkan oleh China ECD Collaborative, memberikan bukti nyata bahwa kolaborasi lintas donor dan organisasi mampu mendorong perubahan kebijakan yang signifikan, meningkatkan kesadaran untuk pemenuhan kebutuhan anak usia dini, serta melahirkan inovasi layanan yang menjangkau ribuan keluarga, termasuk kelompok rentan seperti anak dari keluarga migran. Pengalaman internasional ini menegaskan bahwa gerakan kolektif lebih efektif dalam mempercepat pencapaian dampak dan meningkatkan efisiensi operasional melalui pembagian sumber daya serta pengetahuan yang mustahil dicapai oleh satu lembaga secara mandiri.
Mengadopsi semangat tersebut, simpulan dari pertemuan ini menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk menguatkan ekosistem pengembangan anak usia dini di Indonesia. Dengan menyinergikan kebijakan, memperkuat kapasitas pemangku kepentingan, serta mendorong partisipasi aktif semua pemangku kepentingan, ini menjadi kunci untuk memastikan setiap anak usia dini di Indonesia memperoleh layanan esensialnya secara berkualitas sebagai fondasi pembangunan manusia masa depan,