Di tengah perubahan sosial dan meningkatnya jumlah keluarga dengan kedua orang tua bekerja, kebutuhan terhadap layanan pengasuhan anak semakin tinggi. Daycare kemudian hadir sebagai salah satu bentuk dukungan pengasuhan alternatif bagi keluarga.
Di Indonesia, istilah daycare dan Taman Penitipan Anak (TPA) sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan dalam regulasi dan cakupan layanan. Dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan PAUD, TPA merupakan layanan PAUD nonformal yang menyelenggarakan fungsi pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan bagi anak usia 0-6 tahun.
Sementara itu, istilah daycare belum memiliki definisi khusus dalam regulasi. Dalam pembahasan ini, daycare merujuk pada layanan pengasuhan anak sementara ketika orang tua bekerja, dengan cakupan beragam. Ada yang menyertakan pendidikan, ada pula yang hanya berfokus pada pengasuhan.
Dalam teori ekologi perkembangan manusia yang dikemukakan Urie Bronfenbrenner, anak tumbuh dalam lingkungan yang saling terhubung, mulai dari keluarga hingga kebijakan negara. Dalam kerangka tersebut, daycare menjadi salah satu lingkungan terdekat anak yang berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya.
Karena itu, kualitas layanan daycare perlu dipahami bukan hanya dari aspek fasilitas, tetapi juga dari kualitas pengasuhan dan interaksi yang diterima anak setiap hari.
Daycare dalam Konteks Modern
Meningkatnya kebutuhan terhadap daycare menunjukkan bahwa layanan pengasuhan anak telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat modern. Berdasarkan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 4 Tahun 2024, daycare dipahami sebagai layanan pengasuhan, pembinaan, dan bimbingan sosial bagi anak ketika orang tua bekerja. Artinya, fungsi daycare tidak hanya sebatas menjaga anak, tetapi juga mendukung stimulasi dan pembelajaran anak usia dini.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan di daycare berkaitan erat dengan perkembangan anak. Penelitian longitudinal dari National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), misalnya, menemukan bahwa daycare yang berkualitas berkontribusi terhadap perkembangan bahasa, kemampuan kognitif, serta kesiapan sekolah anak.
Artinya, setiap interaksi yang terjadi di daycare sesungguhnya merupakan bagian dari proses belajar anak. Aktivitas sederhana seperti makan bersama, bermain, membereskan mainan, hingga berinteraksi dengan teman sebaya menjadi kesempatan penting untuk membangun kemampuan sosial, bahasa, motorik, dan kemandirian anak.
Dari “Menjaga” Menuju “Mengasuh”
Sayangnya, fungsi daycare masih kerap dipahami sebatas tempat “menjaga” anak, padahal terdapat perbedaan mendasar antara menjaga dan mengasuh. Menjaga berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dasar anak, sedangkan mengasuh merupakan proses aktif dan responsif untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk aspek emosi, sosial, karakter, dan kemampuan belajar anak.
Teori attachment (kelekatan emosional) yang dikembangkan John Bowlby dan Mary Ainsworth menegaskan bahwa anak usia dini membutuhkan secure attachment (hubungan yang aman dan responsif) dengan pengasuhnya. Relasi yang hangat dan konsisten membantu anak membangun rasa aman, percaya diri, dan keberanian untuk mengeksplorasi lingkungannya.
Sebaliknya, lingkungan pengasuhan yang penuh kekerasan, pengabaian, atau minim interaksi dapat berdampak terhadap perkembangan emosi, perilaku, dan kemampuan sosial anak di kemudian hari.
Pentingnya Interaksi dan Stimulasi
Dalam pengembangan anak usia dini, interaksi yang responsif merupakan fondasi utama pembelajaran. Anak belajar bukan hanya melalui kegiatan akademik, tetapi melalui hubungan sehari-hari dengan orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, pengasuh di daycare tidak hanya bertugas mengawasi, tetapi juga membangun interaksi yang hangat, responsif, dan suportif bagi anak.
Berbagai kasus kekerasan di daycare yang belakangan muncul menjadi pengingat bahwa kualitas pengasuhan anak masih menjadi tantangan serius. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) memang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak masih tinggi secara nasional, dengan 19.628 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2020-2024.
Namun, dalam konteks daycare, tingginya kasus tersebut perlu dipahami sebagai pengingat bahwa anak usia dini merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan di lingkungan pengasuhan, terutama ketika kualitas relasi, pengawasan, dan perlindungan anak belum menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan layanan.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental maupun fisik anak di masa depan. Karena itu, perlindungan anak di daycare tidak cukup hanya melalui pengawasan administratif, tetapi juga melalui budaya pengasuhan yang aman, responsif, dan menghargai hak anak.
Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Saat Memilih Daycare
Memilih daycare tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan lokasi atau biaya. Orang tua perlu memastikan bahwa daycare memiliki kualitas pengasuhan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Legalitas dan izin operasional
Pastikan daycare memiliki izin operasional dan memenuhi standar layanan yang berlaku. Legalitas merupakan bentuk perlindungan paling mendasar untuk memastikan bahwa daycare memiliki standar layanan, pengawasan, dan tanggung jawab yang jelas dalam mendampingi anak.
- Kompetensi pengasuh
Pengasuh daycare idealnya memiliki latar belakang dan pengalaman yang berhubungan dengan perkembangan atau pendidikan anak usia dini, atau setidaknya telah memperoleh pelatihan tentang pengasuhan, perkembangan, dan pendidikan anak usia dini.
- Rasio pengasuh dan anak
Merujuk pada zerotothree.org, rasio yang direkomendasikan untuk anak usia di bawah 3 tahun adalah satu pengasuh untuk maksimal empat anak. Di Indonesia sendiri, hingga saat ini standar rasio pengasuh-anak pada layanan Taman Penitipan Anak (TPA) masih banyak merujuk pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, yang mengatur bahwa idealnya satu pendidik mendampingi maksimal 4 anak pada kelompok usia 0-2 tahun, delapan anak pada usia 2-4 tahun, dan lima belas anak pada usia 4-6 tahun. Meskipun regulasi tersebut berada dalam kerangka pendidikan anak usia dini, prinsip utamanya tetap relevan bagi layanan daycare, yaitu memastikan setiap anak memperoleh perhatian, pengawasan, dan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
- Program stimulasi dan kegiatan harian
Orang tua juga perlu memahami program harian yang diterapkan di daycare. Selain pengasuhan, banyak daycare kini menyediakan kegiatan stimulasi dan pembelajaran untuk mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, penting untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tahap perkembangan anak, dirancang secara terstruktur, serta sejalan dengan nilai dan harapan keluarga.
- Jarak antar daycare dengan rumah atau tempat kerja orang tua
Usahakan memilih daycare yang paling mudah untuk dijangkau dari rumah atau kantor untuk efisiensi waktu dan tenaga, kemudahan antar-jemput, serta penanganan darurat.
- Lingkungan yang aman dan hangat
Orang tua juga perlu memperhatikan suasana dan keamanan lingkungan daycare. Perhatikan bagaimana pengasuh berinteraksi dengan anak, apakah komunikasi terjalin secara hangat dan responsif, serta bagaimana sistem keamanan yang diterapkan daycare untuk melindungi anak selama beraktivitas (misal: akses melihat CCTV, daycare jauh dari jalan raya dan memiliki pagar yang sulit diakses anak).
- Komunikasi dan transparansi
Komunikasi terbuka yang dibangun antara orang tua-daycare akan menciptakan konsistensi pengasuhan yang menguntungkan perkembangan anak. Pastikan orang tua memiliki akses komunikasi yang positif dengan pihak daycare, ada informasi harian mengenai aktivitas dan perkembangan anak, serta transparansi informasi yang berkaitan dengan kondisi anak.
- Umpan balik
Orang tua juga dapat mencari informasi dan masukan dari berbagai sumber mengenai kualitas daycare yang menjadi pilihan. Pengalaman orang tua lain dapat membantu memberikan gambaran tentang pola pengasuhan, komunikasi, keamanan, serta kenyamanan anak selama berada di daycare tersebut.
Daycare dan Pendidikan Bermutu Sejak Usia Dini
Kualitas daycare tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun pendidikan bermutu sejak usia dini. Karena itu, daycare perlu dipandang sebagai bagian dari sistem pengembangan anak usia dini yang terintegrasi, bukan sekadar layanan penitipan anak. Penguatan kualitas daycare juga memerlukan dukungan sistem yang lebih luas, mulai dari regulasi, pengawasan, peningkatan kapasitas pengasuh, hingga dukungan bagi keluarga pekerja.
Kasus-kasus kekerasan di daycare seharusnya menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat sistem pengasuhan anak usia dini di Indonesia. Fokus utama tidak hanya pada penanganan kasus, tetapi juga pada upaya membangun layanan pengasuhan yang aman, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak.
Pada akhirnya, daycare bukan sekadar tempat penitipan anak, melainkan ruang tumbuh yang ikut membentuk pengalaman awal kehidupan anak. Karena itu, memastikan setiap anak mendapatkan pengasuhan yang aman, hangat, dan berkualitas sejak hari pertama tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga. Dibutuhkan tanggung jawab bersama antara orang tua, penyelenggara layanan, masyarakat, dan negara untuk membangun sistem pengasuhan anak usia dini yang benar-benar melindungi, menstimulasi, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.