Menjelang malam di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur, anak-anak bermain di halaman rumah sementara orang tua duduk berbincang di teras. Ketika waktu makan tiba, seluruh anggota keluarga berkumpul tanpa perlu diingatkan. Pada saat itu, akses listrik dan internet masih sangat terbatas. Tidak ada notifikasi yang terus berbunyi, tidak ada media sosial yang bersaing merebut perhatian, dan tidak ada layar yang mendominasi waktu kebersamaan keluarga.
Pengalaman lapangan tersebut bukanlah ajakan untuk kembali ke masa tanpa teknologi. Namun, menunjukkan sesuatu yang semakin penting di era digital: anak membutuhkan kehadiran dan interaksi nyata dengan orang-orang terdekatnya.
Saat ini, seiring meluasnya penggunaan internet dan perangkat digital, teknologi digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga. Kondisi ini membuka berbagai peluang untuk belajar, berkomunikasi, dan mengakses informasi. Namun, di saat yang sama, meningkatnya paparan layar juga menimbulkan tantangan baru bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam menjaga keseimbangan antara pengalaman digital dan interaksi nyata.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5 persen populasi atau setara dengan lebih dari 221 juta pengguna. Sementara itu, Profil Anak Usia Dini 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 42,2 persen anak usia dini telah menggunakan telepon genggam. Data yang sama juga menunjukkan bahwa 41,02 persen anak usia dini telah mengakses internet. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pengalaman digital kini menjadi bagian dari kehidupan anak Indonesia sejak usia sangat dini.
Pengalaman digital kini menjadi bagian dari kehidupan anak Indonesia sejak usia dini. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, ada satu hal yang tidak berubah: keluarga tetap menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan, karakter, dan kemampuan sosial-emosional anak.
Ketika Kehadiran Menjadi Langka
Teknologi bukanlah musuh keluarga. Kehadirannya telah membantu berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga komunikasi dengan kerabat yang berjauhan. Tantangan yang muncul bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada berkurangnya ruang interaksi yang memungkinkan anak dan orang tua benar-benar hadir satu sama lain.
Di banyak keluarga, situasi ini semakin sering terjadi. Orang tua pulang dengan tubuh lelah dan pikiran yang masih tertinggal di pekerjaan. Notifikasi terus berdatangan, media sosial terus memperbarui informasi. Pada saat yang sama, anak-anak juga tenggelam dalam video, permainan digital, atau berbagai hiburan berbasis layar.
Anggota keluarga mungkin berada di rumah yang sama, tetapi perhatian mereka sering berada di tempat yang berbeda.
Bagi anak, keluarga bukan sekadar tempat tinggal. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar berkomunikasi, mengenali emosi, memahami nilai, membangun rasa percaya diri, dan mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Karena itu, kualitas relasi antara anak dan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak, baik pada masa kini maupun di masa depan.
Ketika interaksi dalam keluarga semakin berkurang atau terfragmentasi oleh berbagai distraksi digital, anak berpotensi kehilangan kesempatan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman sederhana yang menjadi fondasi perkembangan sosial dan emosionalnya. Karena itu, tantangan utama di era digital bukan sekadar bagaimana mengurangi penggunaan gawai, melainkan bagaimana memastikan anak tetap memiliki ruang yang cukup untuk membangun relasi yang hangat dan bermakna dengan keluarga.
Anak Membutuhkan Relasi, Bukan Sekadar Koneksi
Dalam perspektif perkembangan anak usia dini, interaksi langsung memiliki peran yang sangat penting. Anak belajar melalui percakapan, permainan, sentuhan, ekspresi wajah, dan respons yang diberikan orang dewasa di sekitarnya.
Kelekatan yang aman (secure attachment) tidak dibangun melalui hadiah, perangkat digital terbaru. Kelekatan tumbuh dari pengalaman sehari-hari ketika anak berbicara dan didengar, bertanya dan dijawab, menangis dan ditenangkan, atau menunjukkan sesuatu lalu mendapat perhatian penuh dari orang tuanya.
Melalui pengalaman tersebut, anak menangkap pesan penting tentang dirinya, bahwa dirinya dihargai, didengar, dan dicintai.
Karena itu, di tengah meningkatnya paparan layar, anak justru membutuhkan lebih banyak kesempatan memperoleh pengalaman nyata melalui interaksi langsung dengan keluarga. Percakapan, permainan, eksplorasi lingkungan, dan berbagai aktivitas bersama adalah kebutuhan dasar tumbuh kembang yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi secanggih apapun..
Waktu Berkualitas Tidak Harus Rumit
Kabar baiknya, membangun relasi kuat dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang atau aktivitas yang rumit. Sering kali orang tua merasa bahwa membangun kedekatan dengan anak membutuhkan waktu yang panjang atau kegiatan yang istimewa. Padahal, hubungan yang kuat justru dibangun melalui rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Makan malam bersama tanpa gangguan layar, berjalan sore di sekitar rumah, membaca cerita sebelum tidur, bermain permainan sederhana, atau sekadar bertanya tentang pengalaman hari itu, semua itu adalah bentuk interaksi yang sangat bermakna.
Aktivitas-aktivitas sederhana tersebut membantu anak merasa aman, diterima, dan memiliki tempat untuk kembali. Kehadiran orang tua yang responsif dalam keseharian anak juga berkontribusi pada perkembangan kemampuan sosial-emosional, regulasi emosi, dan rasa percaya diri.
Dengan kata lain, yang dibutuhkan anak bukan selalu lebih banyak waktu, melainkan waktu yang benar-benar menghadirkan perhatian.
Prinsip 3S: Screen Time, Screen Break, dan Screen Zone
Dalam konteks pengasuhan saat ini, tantangan utama bukan sekadar membatasi penggunaan gawai. Tantangannya adalah membantu anak membangun keseimbangan antara pengalaman digital dengan pengalaman nyata.
Karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan digital yang sehat. Salah satu pendekatan sederhana yang dapat diterapkan adalah prinsip 3S: Screen Time, Screen Break, dan Screen Zone, yaitu:
- Screen Time. Orang tua perlu mengatur durasi penggunaan layar sesuai usia dan tahap perkembangan anak. Penggunaan teknologi perlu dilakukan secara sadar dengan memperhatikan kualitas konten dan pendampingan orang tua.
- Screen Break. Anak membutuhkan jeda dari aktivitas digital untuk bergerak, bermain, berinteraksi, dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Jeda ini penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik maupun sosial.
- Screen Zone. Keluarga dapat menentukan area tertentu sebagai ruang bebas layar, seperti meja makan atau ruang keluarga pada waktu-waktu tertentu. Kehadiran ruang bebas layar membantu menciptakan kesempatan untuk bercakap, mendengar, dan berinteraksi secara langsung.
Prinsip 3S tidak hanya berlaku bagi anak, orang tua juga perlu menjadi teladan dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Sebab anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dari apa yang mereka dengar.
Menguatkan Ekosistem Pengasuhan untuk Anak Indonesia
Sebagai think tank, ecosystem enabler, dan mitra advokasi kebijakan di bidang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), ECED Council Indonesia memandang bahwa penguatan kualitas pengasuhan perlu menjadi agenda bersama.
Tantangan pengasuhan digital tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata, melainkan memerlukan dukungan pemerintah, sekolah, komunitas, media, dunia usaha, dan lingkungan sekitar. Penguatan kapasitas orang tua, edukasi publik tentang pengasuhan digital, penyediaan ruang bermain yang ramah anak, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan kehidupan keluarga merupakan bagian dari ekosistem yang perlu terus diperkuat.
Dalam konteks tersebut, setiap pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah dapat menjadi mitra keluarga dengan mengedukasi orang tua tentang pengasuhan digital yang sehat, bukan hanya membatasi penggunaan gawai di ruang kelas. Komunitas dan media juga berperan dalam membangun kesadaran serta menormalkan percakapan tentang keseimbangan digital di tengah keluarga. Sementara itu, dunia usaha dapat mendukung melalui kebijakan kerja yang lebih ramah keluarga sehingga orang tua memiliki waktu dan ruang yang nyata untuk hadir bersama anak, bukan sekadar berada di rumah.
Momentum Hari Keluarga Nasional menjadi pengingat bahwa hubungan yang hangat, aman, dan responsif antara anak, keluarga, dan lingkungan terdekat merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak. Perubahan bermakna dapat dimulai dari langkah sederhana: menutup layar 30 menit lebih awal, meletakkan ponsel sejenak, dan menghadirkan perhatian secara utuh kepada anak-anak yang sedang tumbuh di hadapan orang tuanya.
Masa kanak-kanak tidak berlangsung selamanya. Sebelum momen-momen itu berlalu, keluarga perlu memastikan bahwa waktu kebersamaan tidak perlahan tergantikan oleh layar. Karena pada akhirnya, yang akan membekas bagi anak bukan hanya pengalaman digital yang mereka konsumsi, tetapi juga kualitas hubungan yang mereka bangun bersama keluarga.