Pengembangan anak usia dini di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa fragmentasi layanan dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Dalam merespon tantangan tersebut, ECED Council Indonesia menginisiasi upaya penguatan tata kelola layanan pengembangan anak usia dini dimulai melalui kajian awal berupa scoping study. Pada tahap ini, fokus utamanya adalah memetakan asset layanan dan sistem tata kelola yang tersedia berbasis analisis data sekunder, sekaligus menyusun kriteria pemilihan desa yang akan digunakan pada tahap lanjutan, yaitu situational analysis study.
Pada Senin, 20 April 2026, ECED Council Indonesia menggelar diskusi strategis untuk memperkuat desain proposal scoping study. Dalam diskusi tersebut, tim peneliti memaparkan rancangan studi yang kemudian mendapatkan masukan dari para anggota terkait kerangka konseptual, metodologi, serta implementasi rencana studi.
Dalam pemaparannya, tim peneliti menekankan bahwa scoping study ini berangkat dari tantangan nyata di lapangan: layanan anak usia dini yang masih berjalan secara sektoral dan belum terkoordinasi secara optimal. Oleh karena itu, studi ini diarahkan untuk memetakan profil layanan sekaligus mengidentifikasi kesenjangan tata kelola dari tingkat desa hingga provinsi. Pendekatan yang digunakan mengacu pada prinsip good governance, dengan menekankan partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan efektivitas sistem layanan. Hasil akhirnya diharapkan mampu menghasilkan tipologi desa yang representatif sebagai dasar intervensi kebijakan dan program ke depan.
Dalam diskusi disampaikan bahwa scoping study akan menghasilkan daftar desa terpilih sebagai keluaran utama, yang kemudian akan digunakan sebagai sampel dalam situational analysis study. Sebanyak 125 desa ditargetkan teridentifikasi melalui proses ini, dengan mempertimbangkan variasi kondisi sosial, ekonomi, geografis, serta ketersediaan layanan berbasis aset desa. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang lebih komprehensif terhadap ketimpangan layanan antar wilayah, termasuk desa pesisir, pegunungan, hingga wilayah terpencil.
Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam diskusi adalah keterbatasan akurasi data nasional dalam merepresentasikan kondisi riil di tingkat desa. Oleh karena itu, anggota ECED Council Indonesia menekankan pentingnya melakukan cross-check dan triangulasi data dengan sumber data lain, termasuk data presisi desa dan surveilans lokal, guna menghasilkan analisis yang lebih akurat, komprehensif dan kontekstual.
Dalam diskusi, Ketua ECED Council Indonesia, Prof. Fasli Jalal, menekankan bahwa penetapan indikator pengembangan anak usia dini holistik integratif (PAUDHI) menjadi landasan utama dalam pengembangan scoping study. Indikator ini mencakup aspek gizi, kesehatan, stimulasi, pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan anak, yang digunakan sebagai kerangka untuk memetakan kondisi layanan sekaligus mengidentifikasi kesenjangan di berbagai konteks wilayah.
Di akhir, diskusi penguatan proposal ini menegaskan komitmen ECED Council Indonesia untuk mendorong kebijakan dan program berbasis bukti dalam pengembangan anak usia dini. Scoping study diharapkan tidak hanya menghasilkan peta aset layanan dan kebijakan mengenenai tata kelola, tetapi juga membuka jalan bagi intervensi yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.